Jumat, 17 Juli 2015

GIGI TERPENDAM/ gigi impaksi (bagian 2)

CARA PENGAMBILAN :

1. Pengambilan secara intoto ( dalam keadaan utuh ).
   Dengan cara membuang tulang yang menghalangi secukupnya, cara ini membutuhkan pengambilan tulang yang lebih banyak dan menimbulkan trauma  yang lebih besar, tetapi mengebor tulang lebih mudah daripada mengebor gigi.

2. Pengambilan secara Inseparasi :
   Yaitu gigi yang terpendam dibelah dan dikeluarkan sebagian-sebagian. Disini kita menseparir gigi, misalnya kita pisahkan korona dari akar. Kalau akar lebih dari satu, maka dipisahkan dan akar yang telah dipisah tersebut diambil satu-persatu. Tujuannya memperkecil pengorbanan tulang.


Tapi harus diingat :

1. Menseparir gigi lebih sukar daripada membuang tulang, sebab email keras daripada tulang.

2. Pada gigi vital, dimana gigi masih sehat pada waktu menseparir gigi tersebut dimana pulpa terbuka dapat menimbulkan rasa sakit walaupun lokal anestesinya berjalan baik.

Memilih cara mana yang akan dilakukan tergantung daripada posisi gigi, keadaan sekeliling gigi, misalnya banyak tulang yang menghalangi, relasi terhadap gigi tetangga dan keadaan gigi tetangga. Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk membuat rencana operasi, yaitu membuat Ro – foto yang baik dan tepat. Sebaiknya dibuat dari 2 atau 3 jurusan misalnya ke arah oklusal dan samping.

Pada Rontgen foto harus dapat dibaca :

- Posisi dari gigi terpendam dengan bentuk dan besarnya gigi, relasinya dengan gigi   tetangga dan jaringan sekitarnya.

- Keadaan akar gigi misalnya jumlah, panjang, besar kurva tura akar, juga harus dilihat ada tidaknya ankilosis, hipersementosis dan bentuk akar.

- Banyak dan tebal tulang alveolar yang merintangi gigi tersebut dilihat dari segala pihak, misalnya lingual atau palatinal, labial dan bukal.

Komplikasi yang mungkin terjadi setelah operasi :
-          Jahitan terbuka
-          Rasa sakit ini adalah normal apabila terjadi sampai hari ke 5
Apabila setelah hari ke 5 masih sangat sakit, kita khawatir terjadi “Dry Socket”
-          Pembengkakan lebih kurang lima hari masih normal.
-          Bila nervus terpotong terjadi parastesi yang lama pada seluruh daerah yang diinervasi nervus tersebut.
Pada pengambilan Molar tiga yang kita khawatirkan yaitu terkenanya atau  Terpotongnya nervus fasialis yang berakibat mulut pasien bisa menjadi merot             (miring sebelah)
      -     Terlukanya bibir atau mukosa mungkin oleh karena tang ekstraksi, raspatorium dan alat-alat lain yang dipergunakan sehingga dapat terjadi inflamasi sekitar bibir dan mukosa mulut.
-          Pada waktu operasi terjadi fraktur prosesus alveolaris.
-          Gigi tetangga dapat menjadi :
                        -- gangren         
            -- nekrose
            -- mobiliti ( goyah )
      -     Dapat terjadi Osteomyelitis
      -     Dan banyak lagi komplikasi lainnya, antara lain gigi yang dekat sinus
maksilaris. Oleh karena itu kita harus hati-hati bekerja



MOLAR TIGA MANDIBULA TERPENDAM

Klasifikasi :

            Perlu diketahui klasifikasi daripada Molar Mandibula terpendam, supaya operator dapat memastikan atau membuat rencana kerja sebelumnya dan dapat mengira-ngira kesulitan apa yang bakal ditemuinya pada pengambilan gigi tersebut.
            Menentukan klasifikasi suatu gigi Molar tiga Mandibula terpendam dilakukan dengan bantuan Ro – foto dan posisi gigi terpendam itu di tulang rahang. Ro – Foto yang diperlukan disini adalah : Infra Oral Radiograf, Lateral Jaw Radiograf, Bite wing Radiograf dan Oklusal Radiograf.

Klasifikasi : menurut Pell & Gregory yang meliputi sebagian klasifikasi dari George B. Winter.

Hubungan gigi dengan tepi ramus antara mendibula dan tepi Distal Molar dua.

Klas   I :    Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal Molar dua untuk
            Lebar mesio distal Molar tiga.
   
      Klas  II :    Ruangan antara distal Molar dua dan ramus lebih kecil daripada lebar Mesio distal Molar tiga.

       Klas III:   Sebagian besar atau seluruh Molar tiga terletak di dalam ramus.


Dalamnya Molar tiga terpendam di tulang Rahang.

Posisi A :   Bahagian tertinggi daripada gigi terpendam terletak setinggi atau lebih
                  Tinggi dari pada dataran oklusal gigi yang normal.

Posisi B :   Bagiantertinggi dari pada gigi berada di bawah dataran oklusal tapi
            Lebih tinggi dari pada serviks Molar dua ( gigi tetangga ).

      Posisi C :   Bagian tertinggi dari pada gigi terpendam, berada di bawah garis
            Serviks gigi Molar dua.

Posisi Aksis memanjang dari pada gigi Molar tiga terhdap aksis Molar dua :

vertikal
horizontal
inverted ( terbalik / kaudal )
mesio angular
disto angular
buko angular
linguo angular

Jumlah / keadaan akar :

Berakar satu atau akarnya bersatu
Berakar lebih satu.

Gigi terpendam ini dapat diklasifikasikan lain berdasarkan :

a.       Angulasi dan Posisi :
1.      vertikal
2.      horizontal
3.      transversal
4.      mesio angular
5.      disto angular
6.      posisi yang menyamping
                   Misalnya : di dalam ramus, di dalam angulus dan lain-lain.  

b.      Keadaan erupsi :

Dapat berupa : - erupsi penuh
                         - erupsi sebahagian
                         - tidak erupsi sama sekali
                         - di bawah mukosa
                         - embedded (tertanam) dalam tulang

c.       Jumlah/keadaan akar :

- gigi yang berakar satu
             - gigi yang berakar dua
             - gigi yang akarnya bersatu
             - apakah keadaan akar menguntungkan apa tidak

             Jadi dalam klasifikasi ini semua harus ditulis :
             Misalnya : Klasifikasi : a. Disto angular
                                                    b. erupsi +
                                                    c. V3 ( akar tiga )

        - dan letak gigi seluruhnya terhadap tulang dan gigi tetangganya, misalnya :
          Jika Molar dua karies – kita lihat gangren atau tidak, apakah bisa dirawat atau           tidak karena ini dapat merubah cara kerja kita.

          Misal : Molar tiga angular – Molar dua perlu dicabut maka Molar dua dicabut dan Molar tiga dibiarkan, Jika Molar dua dan Molar tiga karies, maka sebaiknya kita cabut Molar dua dulu baru kemudian Molar tiga dicabut.

                     Disini kadang-kadang perlu pembukaan flep, tergantung banyaknya tulang yang mengelilingi gigi 

Karies sebelah distal Molar dua yang disebabkan oleh tekanan kronis dari Molar tiga tersebut. Ini hanya dapat dilihat dengan Ro – Foto. Molar dua dicabut dan Molar tiga diambil.

Perawatan :

Anestesi : dapat dengan anestesi lokal atau dengan anestesi umum.

Masing-masing anestesi ada keuntungannya, seperti anestesi lokal, jarang ada pendarahan oleh karena kita memakai vaso-konstriktor.

Pada general anestesi : tidak boleh menggunakan vasokonstriktor kecuali ada izin
                                      dari ahli anestesi.

Indikasi untuk anestesi lokal / anestesi umum :

Lokal anestesi : Biasanya dilakukan pada penderita yang mentalnya kuat dan keadaan umum baik atau normal.

Pada penderita yang gelisah dan debil ( bodoh ) lebih baik kita gunakan anestesi umum.

Teknik operasi :
Yaitu : 1. Membuat insisi untuk pembuatan flep
            2. pengambilan tulang
            3. pengambilan gigi
            4. pembersihan luka
            5. penutupan luka

ad.1. Membuat insisi untuk pembuatan flep.

         Telah kita pelajari lebih dahulu, syarat-syarat buatan flep yang harus kita taati.

   Syarat-syarat flep :
1.      Harus membuka daerah operasi yang jelas.
2.      insisi terletak pada jaringan yang sehat.
3.      mempunyai dasar atau basis cukup lebar sehingga pengaliran darah ke flep cukup baik.

   Insisi :
a.       Di daerah distal Molar dua sampai ke ramus insisi horizontal tegak lurus pada pinggir oklusal tulang elveolar dan ramus.

b.      Dari distal Molar dua kemudian insisi semi vertikal sebelah mesial Molar dua sampai ke forniks kira-kira mencapai apeks Molar satu.
Setelah kedua insisi dibuat dengan baik sampai ke tulang maka muko periosteal flep dibuka dengan raspatorium dan kemudian ditahan dengan penarik pipi.

Setelah flep dibuka maka kelihatan tulang dan kadang-kadang kita sudah dapat melihat giginya sebagian. Kita lakukan pengambilan tulang yang menghalangi gigi tersebut.

Ad.2.   Pengambilan tulang.

            Bila gigi terpendam seluruhnya dilapisi tulang, maka tulang dapat dibuang dengan bor atau pahat. Bor dipakai yaitu : bor yang bulat dan tajam, ada yang menyukai nomor 3 – 5 yaitu yang besar, apabila banyak tulang yang harus dibuang. Tetapi kita juga harus menyediakan bor yang kecil untuk membuang tulang penghalang. Sambil membor kita irigasi gunanya untuk mengurangi panas yang timbul waktu mengebor. Supaya tidak terjadi nekrosa tulang.

     - Apabila tulang menutupi gigi telah cukup dibuang,maka kita dapat menggunakan bor, untuk membuang penghalang yang sedikit-sedikit dipakai bor yang kecil.

- Setelah pengambilan tulang cukup, maka kita coba mencongkel gigi keluar.

            Yang harus diperhatikan :

            Tulang bagian lingual tidak diambil, disini ada suatu modifikasi yaitu : Untuk mempercepat pengambilannya dapat dibuat suatu muko-osteo-flep di sebelah lingual (tidak dilakukan pada pengambilan dengan lokal anestesi) dan ini dipergunakan bila gigi Molar tiga terpendam tersebut lebih mengarah ke lingual. Dengan mengembalikan mukosanya maka tulangnya juga dikembalikan.
            Pada muko osteo flep tidak ada pengambilan tulang.

Ad.3.   Pengambilan gigi

            Dapat dilakukan secara :

            a. Intoto ( utuh )          : kalau gigi dikeluarkan secara bulat ( utuh ).

            b. Separasi ( terpisah ) : gigi dibelah dulu baru dikeluarkan.

            a. I n t o t o :
 Setelah tulang yang mengililingi gigi tersebut kita ambil secukupnya maka kita harus mempunyai cukup ruangan untuk dapat meletakkan elevator di bawah korona. Dengan meletakkan elevator di bawah korona kita membuat gerakan yang mengungkit gigi tersebut.
               Kalau gigi ini tidak bergerak dengan tekanan yang sedikit, maka kita harus mencari bagian tulang mana yang masih menghalangi. Kita tidak boleh mencongkel gigi dengan tenaga yang besar tetapi berusaha menggerakkan dengan tekanan yang minimal. Jika tulang yang diambil telah cukup tetapi gigi belum mau keluar, maka mungkin masih ada tulang atau akar gigi yang menghalangi.            
               Bila mahkota gigi terpendam belum bisa digerakkan, dan terletak di bawah mahkota Molar dua sedang gigi tersebut akan kita ambil dengan cara intoto, maka tulang distal Molar tiga kita ambil lebih banyak sehingga Molar tiga dapat kita congkel ke arah distal. Cara atau teknik kerja tergantung pada posisi gigi, keadaan gigi dan jaringan sekitarnya.


              b. Cara in separasi.
    Pada metode ini kita sedikit membuang tulang tetapi gigi yang impaksi  diambil dengan cara membelah-belahnya (diambil sebagian-sebagian) Dalam keadaan ini kita tidak perlu banyak membuang tulang bagian distal Molar tiga tersebut dan gigi diambil sepotong-sepotong dengan elevator kemudian dikeluarkan dengan tang sisa akar.

Perlu diingat, jangan memaksa karena dapat menyebabkan fraktur tulang rahang atau fraktur Molar dua.

                     Pada gigi Molar tiga posisi vertikal, biasanya membutuhkan pengambilan tulang lebih banyak bila kita mengambil secara intoto.
Pada posisi vertikal biasanya gigi dihalangi oleh ramus asendens mandibula.

                     Kita perhatikan 2 (dua) hal :

1.      Apakah Molar tiga ini dibiarkan dengan membuang tulang dan diharapkan tumbuh normal.
2.      Molar tiga diambil.

        Hal pertama harus kita perhatikan antagonisnya :
          
            - apakah antagonisnya ada
            - apakah antagonisnya berada pada posisi yang baik
            - apakah gigi ini dapat sempurna tumbuh mencapai oklusi normal, hal kita lihat jarak ramus asendens dengan batas distal Molar dua.

Bila jarak tepi antara ramus dan dinding distal gigi Molar dua tampak tidak cukup walau Molar tiga posisi vertikal, Molar tiga harus diambil dan sebaiknya gigi antagonisnya Molar tiga maksila juga diambil.
Pada keadaan dimana tampak kurang sedikit saja maka lebih lanjut melihat ke regio depan yaitu :

-     Apakah gigi front berjejal. Dalam hal ini kita bekerja sama dengan Bagian Ortodonsia untuk pertimbangannya.
    
      Misalnya :
            Premolar diambil, sehingga kita mempunyai tempat untuk Molar tiga tersebut juga dilihat antagonisnya (mesio angular impaksi atau tidak)     

-     Bila Molar tiga ini diambil kemungkinan berjejalnya gigi depan dapat tertolong.

                  Catatan :

                  Setelah flep kita buka, pertimbangkan jumlah tulang yang akan dibuang. Bila pada pengambilan intoto, pengambilan tulang akan terlalu banyak maka kita lakukan dengan teknik in separasi saja.
                  Bila tulang terlalu banyak diambil kemungkinan dapat merusak kanalis        Mandibularis.

ad.4.    Pembersihan Luka :

            Setelah gigi dikeluarkan maka soket atau ruang bekas gigi harus betul-betul dibersihkan dari sisa-sisa tulang bekas pemboran atau pemahatan.       Folikel harus kita bersihkan atau buang. Folikel yang masih tertinggal dapat menyebabkan kista residual.
Sisa enamel organ harus dibersihkan untuk menghindari terjadinya kista Residual.
            Tepi tulang yang runcing harus kita haluskan dengan bor atau dengan “ bone file “ setelah itu rongga tersebut harus kita bersihkan dengan semprotan air garam fisiologis 0,9 % supaya pecahan partikel-partikel tulang dapat keluar semua dan ini dihisap dengan suktor.

            Kemudian alveolus dapat kita isi dengan :

      - terragas ( drain )
      - white head varnish
      - vasenol
      - bubuk sulfa

            Ini tergantung dari kemauan operator.

ad. 5.   Perawatan pasca bedah :

            Bila sudah bersih, flep dikembalikan ke tempatnya dan dijahit.
            Pada pasien diberikan obat-obatan seperti :

      - anti biotik
      - analgetika
      - anti inflamasi
      - dapat diberi tambahan vitamin untuk menaikkan daya tahan tubuh.

      Pada pasien diberi petunjuk tertulis yaitu : pasien tidak boleh berkumur-kumur       selama 24 jam dan terus menerus menggigit tampon.
      Tampon harus diganti dengan tangan yang bersih bila masih berdarah.
      Pasien harus istirahat yang cukup. Tampon  steril yang diletakkan pada daerah luka harus dibuang setelah setengah jam oleh karena dapat menyebabkan terjadinya infeksi, dan bila perlu diganti jika masih ada pendarahan maka        harus datang kembali  ke rumah sakit.
Dan apabila terjadi pendarahan di rumah, maka sebaiknya pasien tidur dengan kepala agak ditinggikan.
    

Bila terjadi pendarahan maka dilakukan dengan cara :

      - membersihkan luka
      - mencari penyebab
      - pemberian hemostatika.

Pada keesokan harinya pasien dapat berkumur-kumur dengan obat kumur / air garam hangat, dianjurkan setiap habis makan.
      Pasien harus memakan makanan yang lunak dan bergizi. Pasien kembali kontrol setiap hari sampai jahitan dibuka, luka dibersihkan dengan air garam fisiologi atau aquadest kemudian diolesi iodine 1 – 3 % atau gentran. Setelah 5 hari jahitan dibuka.



Komplikasi yang dapat terjadi pada pengambilan Molar tiga mandibula terpendam yaitu :

1.      Fraktur rahang
2.      Perdarahan, terlukanya arteri alveolaris inferior
3.      Bekerja tidak bersih, dimana ada jaringan folikel masih tertinggal sehingga
Dapat terjadi kista yang dapat melanjut menjadi tumor.
4. Bekerja tidak bersih sehingga dapat terjadi infeksi yang dapat melanjut jadi Osteomyelitis
      5.  Trauma pada gigi Molar dua
Misalnya sewaktu kita mengebor, jaringan periodontal Molar dua turut rusak walaupun tidak terjadi fraktur Molar dua. Setelah 1 – 3 bulan kemudian pasien datang kembali dengan gangren dan nekrose Molar dua
6.   Terlukanya n. Alveolaris inferior sehingga menyebabkan parastesi.

GIGI TERPENDAM/ gigi impaksi (bagian 1)

Istilah ini biasanya diartikan untuk gigi yang erupsinya oleh sesuatu sebab terhalang, sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal di dalam deretan susunan gigi geligi.

Hambatan halangan ini biasanya berupa :

Hambatan dari sekitar gigi
Hambatan dari gigi itu sendiri


Ad.a.  Hambatan dari sekitar gigi
            Dapat terjadi oleh karena :

1.      Tulang yang tebal serta padat
2.      Tempat untuk gigi tersebut kurang
3.      Gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut
4.      Adanya gigi desidui yang persistensi
5.      Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat.


Ad.b.   Hambatan dari gigi itu sendiri :
            Dapat terjadi oleh karena :

1.      Letak benih abnormal
-          Horizontal
-          Vertikal
-          Kaudal
-          Distal dan lain-lain

2.      Daya erupsi gigi tersebut kurang.


Ada suatu teori yang menyatakan berdasarkan evolusi manusia dari zaman dahulu sampai sekarang bahwa manusia itu makin lama makin kecil dan ini menimbulkan teori bahwa rahang itu makin lama makin kecil, sehingga tidak dapat menerima semua gigi yang ada.
Tetapi teori ini tidak dapat diterima, oleh karena tidak dapat menerangkan bagaimana halnya bila tempat untuk gigi tersebut cukup, tetapi gigi tersebut tidak dapat tumbuh secara normal misalnya letak gene abnormal dan mengapa ada bangsa yang sama sekali tidak mempunyai gigi terpendam misalnya bangsa Eskimo, bangsa Indian, bangsa Maori dan sebagainya.
Kemudian seorang ahli yang bernama Nodine, mengatakan bahwa sivilisasi mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan rahang. Makin maju sesuatu bangsa maka stimulan untuk pertumbuhan rahangnya makin berkurang. Kemajuan bangsa mempunyai hubungan dengan pertumbuhan rahang, karena bangsa yang maju diet makanannya berbeda dalam tingkatan kekerasan dibandingkan dengan bangsa yang kurang maju. Misalnya bangsa-bangsa primitif lebih sering memakan makanan yang lebih keras sedangkan bangsa modern lebih sering makan makanan yang lembek, sehingga tidak atau kurang memerlukan daya untuk mengunyah sedangkan mengunyah merupakan stimulan untuk pertunbuhan rahang.



ETIOLOGI GIGI TERPENDAM MENURUT BERGER

Kausa Lokal :

1. Posisi gigi yang abnormal
2. Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga
3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
4. Kurangnya tempat untuk gigi tersebut
5. Gigi desidui persistensi (tidak mau tanggal)
6. Pencabutan gigi yang prematur
7. Inflamasi yang kronis yang menyebabkan penebalan mukosa sekeliling gigi
8. Adanya penyakit-penyakit yang menyebabkan nekrose tulang karena          
     inflamasi atau abses yang ditimbulkannya.
9. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-            
    Anak


Kausa Umur :

Gigi terpendam dapat terjadi juga bila tidak ada kausa lokal dan dapat disebabkan karena :

Kausa prenatal :
a.       Keturunan
b.      “ Miscegenation”

Kausa Postnatal :
Semua keadaan atau kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada kanak-kanak seperti :

a.       Ricketsia
b.      Anemi
c.       Siphilis kongenital
d.      T.B.C
e.       Gangguan kelenjar endokrin
f.       Malnutrisi

Kelainan Pertumbuhan :
a.       Cleido cranial dysostosis
b.      Oxycephali
c.       Progeria
d.      Achondroplasia
e.       Celah langit-langit


Cleido Cranial Dysostosis :

Terjadi pada masa kongenital dimana terjadi kerusakan atau ketidak beresan dari pada tulang kranial. Hal ini biasanya diikuti dengan persistensi gigi susu dan tidak erupsinya atau tidak terdapat gigi permanen, juga ada kemungkinan dijumpai gigi supernumeri yang rudimenter.

Oxycephali :

Suatu kelainan dimana terdapat kepala yang lonjong diameter muka belakang sama dengan dua kali kanan atau kiri. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan rahang.

Progeria :

Merupakan suatu kelainan dimana penderita terlalu cepat tua. Kelainan ini merupakan suatu bentuk infantilisme yang ditandai dengan :
-          Tubuh yang tetap kecil
-          Tidak ada tanda-tanda kedewasaan seperti bulu ketiak, bulu pubis dan lain sebagainya.
-          Kulit berkerut, rambut putih, muka, kelakuan dan tindakan seperti orang tua.

Achondroplasia :

Suatu penyakit dari kerangka, yang dimulai dari fetus dan memberi bentuk kerdil, tulang-tulang rawan tidak tumbuh normal.

Celah langit-langit :

Dimana tidak ada perlekatan antara tuber maksilaris dengan tuber palatinalis, kebanyakan kasus ini penyebabnya herediter.

Semua kausa tersebut diatas erupakan etiologi dari gigi terpendam yang manapun. Menurut penyelidikan insidens gigi terpendam terdapat dalam urutan sebagai berikut :

1.      Molar tiga mandibula
2.      Molar tiga maksila
3.      Kaninus maksila
4.      Kaninus mandibula
5.      Premolar mandibula
6.      Premolar maksila
7.      Insisivus pertama maksila
8.      Insisivus kedua maksila

Gigi yang terpendam merupakan sumber potensial yang terus menerus dapat menimbulkan kerusakan atau keluhan sejak gigi tersebut mulai erupsi.

            - Molar tiga     =          17  -  21  tahun

            - Kaninus         =            6  -  15  tahun

            - Premolar        =            9  -  12  tahun

            - Insisivus        =            4  -    7  tahun


KERUSAKAN ATAU KELUHAN YANG DITIMBULKAN

Inflamasi
Resorpsi gigi tetangga
Kista ( Folikuler )
Rasa sakit – neuralgia
Fraktur (Patah tulang rahang)
dan komplikasi lain

Ad.1.   Inflamasi.
  
Inflamasi merupakan suatu perikoronitis yang lanjutannya menjadi abses dento-Alveolar akut-kronis, ulkus sub-mukus yang apabila keadaan tubuh lemah dan tidak mendapat perawatan dapat berlanjut menjadi osteomyelitis. Biasanya gejala-gejala ini timbul bila sudah ada hubungan soket gigi atau folikel gigi dengan rongga mulut.

Ad.2.   Resorpsi gigi tetangga.

Setiap gigi yang sedang erupsi mempunyai daya tumbuh ke arah oklusal gigi tersebut. Jika pada stadium erupsi, gigi mendapat rintangan dari gigi tetangga maka gigi mempunyai daya untuk melawan rintangan tersebut.

Misalnya gigi terpendam Molar tiga dapat menekan Molar dua, Kaninus dapat menekan insisivus dua dan Premolar. Premolar dua dapat menekan Premolar satu.

Disamping mengalami resorpsi, gigi tetangga tersebut dapat berubah arah atau posisi.

Ad.3.   Kista.

Suatu gigi yang terpendam mempunyai daya untuk merangsang pembentukan kista atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi.
Benih gigi tersebut mengalami rintangan sehingga pembentukannya terganggu Menjadi tidak sempurna dan dapat menimbulkan premordial kista dan folikular kista.

Ad.4.   Rasa Sakit.

Rasa sakit dapat timbul bila gigi terpendam menekan syaraf atau menekan gigi tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi tetangga lain di dalam deretan gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa sakit.

Rasa sakit dapat timbul karena :

a.       Periodontitis pada gigi yang mengalami trauma kronis.
b.      Gigi tependam langsung menekan n.alveolaris inferior pada kanalis mandibularis.
c.       Resorpsi gigi tetangga sampai mengenai kanalis radisis, sehingga gigi mengalami pulpitis.

Ad.5.   F r a k t u r.

Fraktur dari tulang rahang sebetulnya akibat gigi terpendam dapat timbul oleh karena terjadi kista yang besar pada rahang tersebut sehingga dapat terjadi fraktur patologis. Gigi terpendam dapat menimbulkan abses yang bila tidak dirawat dapat terjadi fraktur patologis akibat dari Osteomyelitis.

Ad.6.   Komplikasi-komplikasi lain.

            Gigi terpendam merupakan benda yang letaknya abnormal di dalam tulang             rahang dan merupakan sumber potensial untuk terjadinya bermacam kompli-            kasi, walaupun jarang dapat menyebabkan :

a.       Tinnitus aurium (kuping mendengung)
b.      Otitis
c.       Kelainan pada mata seperti :
- Kabur
                  - Kebutaan
                  - Iritis
                  - Sakit menelan seperti pada glaukoma

Melihat komplikasi yang dapat ditimbulkannya, maka dapat disimpulkan bahwa gigi terpendam ini harus diambil dan sebaiknya diambil sedini mungkin. Tetapi ada pendapat lain bahwa gigi terpendam ini tidak usah diambil bila prognosanya baik atau bila tidak menimbulkan keluhan. Sebagian kecil daripada para ahli menganut pendapat terakhir ini.

INDIKASI PENGAMBILAN GIGI TERPENDAM ( ODONTEKTOMI ) :

Yaitu bila :
1.      Menimbulkan gejala neuralgia disebabkan tekanan gigi pada syaraf.
2.      Pembentukan kista.
3.      Ada gejala inflamasi
4.      Mengalami karies
5.      Ada gejala akan menimbulkan karies pada gigi tetangga.

Prinsip perawatan adalah membuat trauma sekecil mungkin, yaitu :

a.       Kerja dengan teknik yang teratur.
b.      Operasi atau pengambilan harus dilakukan dengan penglihatan langsung
c.       Membuat rencana yang lengkap sehingga pengeluaran tenaga sekecil mungkin.
d.      Gigi tetangga dan struktur periodontium harus tetap dalam keadaan utuh.

Pemeriksaan klinis :
          
            Banyak penderita dengan gigi terpendam, tidak mempunyai keluhan dan kadang-kadang tidak tahu bahwa ada kelainan pada gigi geliginya.

Keluhan biasanya berupa :

1. Perikoronitis dengan gejala-gejala :
    - rasa sakit di regio tersebut
    - pembengkakan
    - mulut bau ( foeter exore )
    - pembesaran limfe-node sub-mandibular.

2. Karies pada gigi tersebut :
    Dengan gejala : pulpitis, abses alveolar yang akut.
    Hal yang sama dapat terjadi bila suatu gigi mendesak gigi tetangganya, hal ini dapat   menyebabkan terjadinya periodontitis.

3. Pada penderita yang tidak bergigi.
    Rasa sakit ini dapat timbul karena penekanan protesa sehingga terjadi perikoronitis.

4. Kadang-kadang dapat terjadi parastesi, neuralgia pada bibir bawah, ini mungkin     disebabkan tekanan pada n.mandibularis.
Tekanan pada n.mandibularis dapat juga menyebabkan rasa sakit pada Premolar dan Kaninus.

Pemeriksaan ekstra oral :

Kita perhatikan : 
1. Apakah ada pembengkakan.
2. Apakah ada pembesaran limfenode yang kadang-kadang tidak terasa sakit.
3. Adanya parastesi.

Pemeriksaan intra oral :

Kita perhatikan : - keadaan gigi, erupsi atau tidak
                            - Karies atau tidak, adanya perikoronitis.
                            -  Posisi gigi tetangga, hubungan dengan gigi tetangga, ruang antara
                                gigi dengan ramus ( pada molar tiga mandibula ).

Pemeriksaan Ro – foto : - dental foto ( intra oral )
                                        - obligue

                                        - occlusal foto / bite-wing

TEMPOROMANDIBULAR DISORDERS (TMD)

Definisi TMD
Gangguan fungsi pada organ stomatognatik (TMJ dan otot-otot) yang menimbulkan gejala rasa sakit pada otot pengunyahan, Temporomandibular joint, geligi, dan jaringan periodonsium.
Kelainan pada sendi temporomandibuler bisa mengenai sendi dan otot-otot yang berada di sekitarnya. Sebagian besar penyebab dari kelainan sendi temporomandibuler adalah gabungan dari ketegangan otot dan kelainan anatomis pada sendi, kadang disertai faktor psikis. Kelainan ini paling sering terjadi pada wanita berusia 20-50 tahun.

Tanda-tanda dan gejala gangguan TMJ
• Sakit atau gangguan yang terasa di rahang
• Rasa sakit di sekitar telinga
• Kesulitan menelan atau perasaan tidak nyaman ketika menelan
• Rasa sakit di sekitar wajah
• Suara clicking atau perasaan tidak mulus ketika mengunyah atau membuka mulut anda.
• Rahang terkunci, sehingga mulut sulit dibuka atau ditutup.
• Sakit kepala
• Gigitan yang tidak pas
• Gigi-gigi tidak mengalami perlekatan yang sama karena ada sebagian gigi yang mengalami kontak prematur (lebih awal dari yang lain)


Faktor penyebab TMD
Penyebab dari TMD tidak jelas, TMD biasanya melibatkan lebih dari satu gejala dan sangat jarang terjadi karena satu penyebab. TMD disebabkan karena beberapa faktor berjalan bersama, termasuk trauma pada rahang dan penyakit sendi (arthritis).
Gerinda gigi, kebiasaan bruksisme, dan ketegangan otot pada kepala atau leher telah dibuktikan belum tentu merupakan penyebab TMD, tapi hal itu semua dapat memperparah atau memperpanjang gejala TMD. Kebiasaan bruksisme dan ketegangan otot pada kepala atau leher seringkali harus dikontrol untuk mengurangi dan penanganan gejala TMD.
Orang-orang dengan TMD harus mengetahui bahwa kelainan TMD bersifat kronis. Banyak faktor seperti stres, kesehatan secara psikologi, dan stabilitas emosional dapat berpengaruh pada seberapa parah atau seberapa panjang gejala TMD pada seseorang akan bertahan. Karena tidak ada perawatan instan yang dapat menangani gejala TMD ini, penanganan yang paling sukses untuk perawatan TMD adalah penanganan diri sendiri dan mengkontrol faktor-faktor yang dapat memperparah kelainan TMD ini.


Faktor-faktor yang berkaitan dengan TMD

1. Trauma
Trauma secara langsung pada rahang telah terbukti berhubungan onset dari gejala TMD. Trauma secara langsung pada rahang dapat terjadi dari pukulan pada rahang, hiperextension atau overstretching pada rahang, dan pada beberapa kasus kompresi pada rahang. Lamanya atau kekuatan yang berlebihan pada prosedur perawatan gigi, intubasi untuk anastesi umum, dan prosedur bedah untuk mulut, kerongkongan, esofagus, dan perut dapat menjadi faktor trauma pada TMJ.

2. Kebiasaan buruk
Kebiasaan seperti gerinda gigi, bruksisme, menggigit bibir, menggigit kuku, mengunyah permen karet, dan postur yang abnormal dari rahang adalah sangat umum dan tidak terbukti sebagai penyebab TMD, tapi berhubungan dengan TMD dan mungkin dapat membuat gejala TMD bertambah parah dan kronis.

3. Oklusi
Oklusi gigi merupakan kestabilan gigi-gigi dalam gigitannya. Para ahli percaya bahwa maloklusi dapat menyebabkan TMD, tapi penelitian akhir-akhir ini tidak mendukung teori tersebut. Penelitian telah menunjukkan bahwa kebanyakan pasien dengan TMD mempunyai oklusi yang normal dan mayoritas orang-orang dengan maloklusi tidak mengalami kelainan TMD. Maloklusi seringkali merupakan faktor kontribusi yang dapat memperparah TMD tapi tidak pernah menjadi faktor utama penyebab kelaianan TMD.

4. Psikologikal
Banyak pasien dengan TMD mengatakan bahwa gejala TMD timbul atau bertambah parah ketika mereka mengalami depresi, ansietas, dan peningkatan stres emosional. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pasien dengan TMD meningkat gejalanya ketika mengalami depresi, ansietas, dan peningkatan stres emosional. Kebanyakan pasien akan mengalami peningkatan kebiasaan gerinda gigi dan bruksisme ketika mereka mengalami depresi, ansietas, dan peningkatan stres emosional.

5. Penyakit TMJ
Beberapa tipe artritis akan terjadi pada TMJ seperti pada sendi yang lain. Osteoartritis sangat umum terjadi pada usia lanjut. Penyakit- penyakit seperti panyakit parkinson, myasthenia gravis, stroke, amyotropic lateral sclerosis (Lou Gehrig’s disease) akan menyebabkan pergerakan rahang yang tidak terkontrol. Penyakit seperti tetanus (lock jaw) akan menyebabkan kontraksi rahang dan otot yang tidak terkontrol.

6. Lain-lain
Penggunaan obat dan medikasi preskripsi tertentu dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan otot yang dapat mempengaruhi TMD.


Tipe TMD

1. Myogenous TMD (berhubungan dengan otot)
Biasanya pada kerja otot yang berlebihan, fatik, atau tekanan pada rahang dan otot yang mendukung. Tipe ini meyebabkan sakit pada rahang, sakit kepala dan atau sakit di belakang leher.

2.  Arthrogenous TMD (berhubungan dengan sendi)
Biasanya disebabkan karena keradangan, penyakit, atau degenerasi jaringan lunak atau keras yang berkaitan dengan TMJ. Keradangan, dislokasi diskus, dan artritis degeneratif merupakan kelainan artrogenus yang paling sering.


Kelainan dan Penyakit TMJ

a) Artritis
Artritis bisa terjadi pada sendi temporomandibuler seperti halnya sendi lainnya.
Osteoartritis (penyakit sendi degeneratif), merupakan sejenis artritis dimana kartilago sendi mengalami pengeroposan, hal ini lebih sering terjadi pada orang tua.  Kartilago pada sendi temporomandibuler tidak sekuat kartilago pada sendi lainnya.  Osteoartritis terutama terjadi jika cakramnya hilang atau telah membentuk lubang, sehingga penderita merasakan sendinya berderik pada saat membuka atau menutup mulutnya.
Pada osteoartritis yang berat, ujung tulang rahang akan menjadi rata, dan penderita tidak dapat membuka mulutnya lebar-lebar.  Rahang juga bisa bergeser ke sisi yang sakit, dan penderita tidak mampu untuk memindahkannya kembali.  Tanpa pengobatan hampir seluruh gejala akan membaik setelah beberapa tahun, mungkin karena jaringan di belakang cakram membentuk jaringan parut dan berfungsi seperti cakram yang asli.
Artritis rematoid hanya terjadi sebanyak 17% pada penderita yang mengalami artritis pada sendi temporomandibuler.  Jika artritis rematoid sangat berat (terutama pada orang muda), ujung tulang rahang bisa mengalami pengeroposan dan memendek.   Kerusakan ini bisa menyebabkan maloklusi (salah temu antara gigi atas dan gigi bawah) secara tiba-tiba.  Jika kerusakannya parah, tulang rahang pada akhirnya akan melebur dengan tulang tengkorak (ankilosis), sehingga sangat membatasi kemampuan membuka mulut.
Artritis pada sendi temporomandibular juga bisa terjadi akibat cedera, terutama cedera yang menyebabkan perdarahan ke dalam sendi.  Cedera seperti ini biasanya terjadi pada anak-anak yang tertabrak pada sisi dagunya.  Penderita osteoartritis pada sendi temporomandibuler harus mengistirahatkan sendi tersebut selama mungkin, menggunakan bidai atau alat lain untuk mengendalikan ketegangan ototnya, dan minum pereda nyeri untuk mengurangi nyerinya.
Rasa nyeri akan menghilang dalam waktu 6 bulan dengan atau tanpa pengobatan.
Biasanya, pergerakan rahang cukup memadai untuk aktivitas normal, walaupun rahang tidak dapat dibuka lebar seperti sebelumnya.  Artritis rematoid pada sendi temporomandibular diobati dengan obat-obatan yang digunakan untuk artritis rematoid pada sendi yang lain.  Pengobatannya terdiri dari obat pereda nyeri, kortikosteroid, metotreksat dan senyawa emas.   Mempertahankan pergerakan sendi dan mencegah ankilosis sangat penting.  Biasanya, cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan atihan dibawah pengawasan seorang terapis.
Untuk mengurangi gejala (terutama ketegangan otot), penderita menggunakan sebuah bidai pada malam hari yang tidak membatasi pergerekan rahang. Pada ankilosis, mungkin diperlukan pembedahan dan penggunaan sendi buatan untuk mengembalikan pergerakan rahang (jarang terjadi).

b) Ankilosis
 Ankilosis adalah hilangnya pergerakan sendi, sebagai akibat dari peleburan tulang di dalam sendi atau pengapuran ligamen di sekitar sendi.  Pengapuran ligamen di sekitar sendi tidak menimbulkan nyeri, tetapi mulut hanya dapat membuka selebar 2,5 cm atau kurang.  Peleburan dari tulang-tulang di dalam sendi menyebabkan nyeri dan gerakan sendi menjadi amat sangat terbatas.  Kadang-kadang latihan peregangan dapat menolong penderita yang mengalami pengapuran, tetapi biasanya pengapuran atau peleburan tulang memerlukan tindakan pembedahan untuk mengembalikan pergerakan rahang.

c) Hipermobilitas
Hipermobilitas (melonggarnya rahang) terjadi jika ligamen yang menahan sendi menjadi teregang.  Pada hipermobilitas, rahang bergeser seluruhnya ke depat, keluar dari tempatnya (dislokasi), menyebabkan nyeri dan tidak dapat menutup mulut.  Hal ini bisa terjadi secara berulang-ulang.  Untuk mencegah terjadinya hal ini, jangan membuka mulut terlalu lebar, sehingga ligamen tidak terlalu teregang.  Karena itu hendaknya menahan menguap dan menghindari roti lapis yang tebal dan makanan lainnya yang memerlukan mulut terbuka lebar.  Jika sering terjadi dislokasi, mungkin diperlukan pembedahan untuk mengembalikan posisi normal atau untuk memperpendek ligamen dan mempererat sendi.

d) Kelainan Pembentukan
Cacat bawaan pada sendi temporomandibuler jarang terjadi.  Kadang ujung tulang rahang tidak terbentuk atau lebih kecil daripada normal; atau tumbuh lecih cepat atau lebih lama daripada normal. Kelainan tersebut bisa menyebabkan kelainan bentuk wajah dan maloklusi (salah letak gigi atas dan gigi bawah). Keadaan ini hanya bisa diatasi dengan pembedahan.

e) Nyeri Otot
Nyeri otot di sekitar rahang terutama disebabkan oleh penggunaan otot yang berlebihan, yang seringkali bersumber dari stres psikis yang menyebabkan penderita mengatupkan atau mengertakan giginya (bruksisme).
Pada umumnya orang dapat meletakkan ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya secara vertikal pada ruang antara diantara bagian atas dan bawah gigi depan tanpa tekanan. Tetapi jika terdapat kelainan otot-otot di sekitar sendi temporomandibuler, ruang tersebut biasanya menjadi lebih kecil.
Biasanya timbul rasa nyeri yang sangat ringan pada sendi. Tetapi penderita lebih sering merasakan nyeri pada kedua sisi wajah selama terjaga atau sepanjang hari, setelah saat-saat yang menegangkan. Nyeri ini merupakan akibat kejang otot yang disebabkan oleh pengatupan otot dan pengertakan gigi yang berulang-ulang.
Orang-orang yang menyadari bahwa mereka melakukan gerakan mengatupkan atau mengertakan giginya dapat menghentikan kebiasaan ini. Biasanya pengobatan utama adalah pembidaian. Pembidaian mengurangi pengatupan dan pengertakan, sehingga otot-otot rahang dapat beristirahat dan sembuh kembali.
Pembidaian juga dapat merncegah kerusakan gigi karena penekanan yang luar biasa ketika penderita mengatupkan atau mengertakan giginya.
Terapi fisik yang dilakukan bisa berupa :

• Pengobatan ultrasonik.
Merupakan suatu metode dimana diberikan panas kepada daerah yang nyeri.
Jika dihangatkan dengan ultrasonik, pembuluh darah akan melebar dan darah bisa lebih cepat mengangkut asam laktat yang terkumpul, yang menyebabkan timbulnya nyeri otot.

• Electromyographic biofeedback.
Teknik ini memantau aktivitas otot dengan sebuah meteran.  Penderita berusahan untuk mengendurkan seluruh tubuh atau otot tertentu sambil melihat ke meteran.
Dengan cara ini, penderita belajar untuk mengendalikan atau mengendurkan otot tertentu.

• Obat semprot dan latihan peregangan.
Menyemprotkan pendingin kulit pada pipi dan pelipis dapat meregangkan otot-otot rahang.

• Pemijatan gesekan.
Handuk yang kasar digesekkan diatas pipi dan pelipis untuk meningkatkan peredaran darah dan mempercepat pengangkutan asam laktat.

• Perangsangan saraf elektrik transkutaneus.
Digunakan sebuah alat yang merangsang serat-serat saraf yang tidak menyalurkan nyeri. Impuls (rangsangan hantaran saraf) yang terjadi diduga akan menghalangi impuls nyeri yang dirasakan oleh penderita.

• Mengatasi stres seringkali membawa perubahan yang drastis.

• Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan bisa berupa obat yang melenturkan otot, untuk menghilangkan sesak dan nyeri. Tetapi pemberian obat tidak bersifat menyembuhkan, dan tidak dianjurkan pada orang lanjut usia dan hanya diberikan dalam waktu yang singkat (biasanya 1 bulan atau kurang).  Obat pereda nyeri (misalnya anti peradangan non-steroid, contohnya aspirin) juga bisa mengurangi nyeri. Obat tidur kadang diberikan untuk membantu penderita yang mengalami kesulitan tidur karena nyeri yang timbul.


f) Gangguan Internal
Pada gangguan internal (internal dearangement), cakram di dalam sendi terletak lebih depan dari posisi normalnya. Pada gangguan internal tanpa reduksi, cakram tidak pernah bisa masuk kembali ke dalam posisi normalnya, dan pergerakan rahang menjadi terbatas.  Pada gangguan internal yang disertai reduksi (lebih sering terjadi), cakram terletak lebih depan dari posisi normalnya hanya jika mulut dalam keadaan tertutup. Jika mulut terbuka dan rahang bergeser ke depan, cakram akan masuk kembali ke dalam posisi normalnya, dan terdengar bunyi 'klik'.  Jika mulut tertutup, cakram akan terdorong ke depan lagi, dan akan terdengar lagi bunyi 'klik'.
Satu-satunya gejala dari gangguan internal adalah bunyi 'klik' dalam sendi yang timbul jika mulut terbuka lebar atau rahang bergeser dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Sebanyak 20% penderita tidak menimbulkan gejala lainnya, selain bunyi tersebut.
Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan pada saat penderita secara perlahan membuka dan menutup mulutnya. Jika penderita merasakan nyeri atau sulit menggerakkan rahangnya, maka diperlukan pengobatan. Jika segera setelah timbulnya gejala penderita mencari pengobatan, dokter gigi masih mampu mendorong cakram kembali ke posisi normalnya.  Tetapi jika keadaan ini telah berlangsung kurang dari 3 bulan, digunakan bisai untuk menjaga agar rahang bawah tetap mengarah ke depan.
Pembidaian akan mempertahankan cakram dalam posisinya, sehingga ligamen penyangganya semakin erat. Setelah 2-4 bulan, bidai akan disesuaikan agar dapat mengenbalikan rahang kembali ke posisi normalnya, dengan harapan bahwa cakram akan tetap tinggal di tempatnya. Penderita diminta untuk menghindari membuka mulutnya terlalu lebar.  Penderita harus menahan bila menguap, memotong-motong makanan menjadi potongan kecil-kecil, dan makan makanan yang mudah dikunyah.  Bila keadaan ini tidak dapat diatasi dengan cara-cara non-bedah, bisa dilakukan pembedahan untuk membali membentuk cakram dan menempelkannya kembali ke tempatnya. Tetapi pembedahan jarang dilakukan.  Penderita seringkali juga merasakan nyeri otot; setelah nyeri otot diobati, gejala lainnya biasanya akan menghilang juga.  Lebih mudah mengatasi nyeri otot daripada mengobati gangguan internal.

g) Dislokasi
TMJ dapat mengalami dislokasi antrior pada saat pembukaan mulut. Hal ini dapat disebabkan oleh pembukaan mulut yang terlalu besar (misal karena menguap atau tertawa yang terlalu lebar) atau akibat tindakan pencabutan gigi. Keadaan ini harus segera diatasi, sebab apabila dibiarkan dapat menyebabkan terbentuknya jaringan fibrosa yang adhesif.
Gejala kliniknya berupa dagu lebih kedepan bawah, sakit dan sukar membuka mulut, sulit berbicara, salivasi, gigitan terbuka, dislokasi unilateral, deviasi mandibula kearah normal.

h) Trismus
Adalah keadaan dimana terjadi pembatasan dari pergerakan TMJ yang bersifat temporer. Merupakan gejala dan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Yaitu yang berasal dari penyakit peradangan akut yang terasa sendi atau jaringan di sekitarnya misalnya perikoronitis akut dan mumps.. Diagnosa ditentukan dengan berdasar pada tanda-tanda penyakit yang berhubungan dengannya. Kelompok kedua dari gangguan tersebut disebabkan oleh benturan langsung (trauma) atau peradangan dari otot pengunyahan dan kelompok ketiga, dimana trismus tidak selalu terjadi, berasal dari gangguan sistem saraf sentral.

i) Degenerasi
Degenerasi kartilago artikuler disebabkan oleh gangguan keseimbangan fisiologi antara stress mekanis dan kemampuan jaringan sendi untuk bertahan terhadap stress tersebut. Pada stres mekanis, kartilago artikuler sangat resisten terhadap proses pengausan dalam kondisi gerakan yang berkali-kali, kendati beban benturan yang berulang akan menyebabkan kegagalan sendi pada tingkat kartilago. Ketika sendi mengalami stress mekanis yang berulang, elastisitas kapsula sendi, kartilago artikuler dan ligamentum akan berkurang. Lempeng artikuler akan menipis dan kemampuannya untuk menyerap kejutan menurun, terjadi penyempitan rongga sendi dan gangguan stabilitas.ketika lempeng artikuler lenyap, osteofit (tulang taji) akan terbentuk di bagian tepi permukaan sendi dan kapsula serta membrane synovial menebal. Kartilago sendi mengalami degenerasi serta atrofi, tulang mengeras dan mengalami hipertrofi pada permukaan sendinya dan ligament akan mengalami kalsifikasi. Akibatnya terbentuk efusi sendi yang steril dan sinovitis sekunder. Selain stress mekanis, perubahan pelumas dan imobilitas juga mempengaruhi degenerasi.
Gejala klinis umumnya berupa rasa sakit berupa rasa sakit pada pergerakan sendi, krepitasi, keterbatasan gerak dan penyimpangan pola gerakan sendi. Secara radiologis, degenerasi sendi ditandai dengan penyempitan ruang artikularis, melandainya kontur permukaan sendi, aposissi jaringan tulang, pembentukan abnormal tepian tulang, erosi permukaan kondilus dan pembentukan tulang sklerotik dibawah kartilago sendi.


Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya degenerasi :

• Faktor biomekanik
Perubahan besar dari pola tekanan yang dialami TMJ melewati ambang batas tahanan sendi dan berlangsungdalam jangka waktu yang lama maka TMJ akan dapat mengalami degenerasi.
• Peradangan menahun
Menyebabkan perubahan jaringan yang menetap sehingga terjadi perubahan struktur jaringan sendi, seperti terbentuknya jaringan parut.
• Gangguan nutrisi
Berkurangnya nutrisi dapat menyebabkan perubahan bahkan kematian jaringan.

j) Gangguan perkembangan
• Aplasia kondilus
Kelainan dimana kondilus mandibula tidak berkembang dengan sempurna, biasa unilateral ataupun bilateral. Kemungkinan akibat trauma pada saat perkembangan, bisa juga dikarenakan oleh infeksi.
• Aplasia diskus artikularis
Kelainan perkembangan yang melibatkan bentuk, ukuran dan konsistensi dari diskus artikularis tidak sempurna disebabkan oleh terjadi kegagalan pembentukan serat kolagen yang merupakan struktur dasar dari diskus.

k) Neoplasma
Neoplasma pada TMJ dapat mengenai kondilus atau jaringan penyangganya. Neoplasma yang mengenai TMJ jarang ditemukan, dan biasanya bersifat jinak. Lesi yang paling sering ditemukan adalah osteokondroma dan osteoma.

TEMPOROMANDIBULAR JOINT

Temporo Mendibular Joint (TMJ) atau Sendi temporo mandibular adalah suatu sendi synovial yang menghubungkan rahang bawah (mandibula) dengan tulang temporal yang terletak didepan telinga dan merupakan salah satu sendi yang paling aktif pada tubuh manusia. Hubungan sendi ini bersifat fleksibel. Sendi temporomandibula merupakan suatu sendi atau perlekatan yang bilateral dan dapat bergerak.

Komponen TMJ :
1. Kondilus Mandibula
2. Fossa kondilaris/mandibula/glenoid/artikularis temporalis
3. Eminensia artikularis ossis temporalis
4. Diskius artikularis
5. Ligamentum sendi



A. Artikulasi tulang
Sendi temporomandibula terdiri dari persendian yang dibentuk oleh tulang, yang terdiri dari fosa glenoidalis dan prosesus kondilaris mandibula. Prosesus kondilaris ini berbentuk elips yang tidak rata apabila dilihat dari potongan melintang. Sedangkan permukaan artikular dari persendian dilapisi oleh jaringan fibrokartilago yang lebih banyak dibanding kartilago hialin.


B.  Diskus Artikularis
Bentuk penampangnya bulat lonjong,memanjang anterior posterior.dari arah lateral,discus tampak cembung kearah cranial, sehingga sesuai dengan bentuk fossa mandibularis dan cekung kearah kaudal sesuai dengan bentuk kondilus mandibula
Discus tersusun dari jaringan fibro kartilago, mengandung banyak proteoglikan sehingga mempunyai daya tahan tinggi terhadap tekanan.diskus artikularis tidak mengandung pembuluh darah dan saraf. Pada bagian posterior discus meleket pada jaringan ikat jarang yang memiliki vaskularisasi dan inervasi yang tinggi, yaitu jaringan retrodistal.
Diskus tersusun dari tiga bagian, yaitu pita posterior dengan ketebalan 3 mm, zona intermediat yang tipis, dan pita anterior dengan ketebalan 2 mm.
Diskus artikulasi membagi ruang sendi menjadi dua bagian yaitu :
1. Ruang sendi bagian kranial/superior : dibatasi oleh fossa mandibula dan permukaan superior dari diskus artikularis.
2. Ruang sendi bagian kaudal/inferior : dibatasi oleh kondilus mandibularis dan permukaan inferior dan diskus.


C.  Kapsula
Kapsula merupakan ligamen tipis yang memanjang dari bagian temporal fosa glenoidalis di bagian atas, bergabung dengan tepi meniskus, dan mencapai bawah leher prosesus kondilaris untuk mengelilingi seluruh sendi.
TMJ dikelilingi oleh ligamentum kapsul sendi. Fungsinya adalah mengelilingi sendi sehingga dapat mempertahankan cairan synovial. Ligamentum ini juga berperan dalam menahan beban dari arah medial, lateral atau inferior yang dapat memisahkan atau menyebabkan dislokasi dari permukaan artikularis.


D.  Ligamen
Ligament berfungsi melindungi struktur sendi terdiri dari jaringan ikat kolagen yang yang tidak dapat meregang.
Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi temporomandibula yaitu;
1. ligamentum kolateral/ diskal
ligamentum ini terdiri dari ligamentum kolateral medial, dan ligamenrtum kolateral lateral.
2.  ligamentum kapsul sendi
 Fungsinya untuk mengelilingi  sendi sehingga dapat mempertahankan cairan synovial
3.  ligamentum temporomandibularis
Ligamentum ini terdiri daribagian oblik luar yang berfungsi dalam menahan pengeluaran yang berlebihan dari kandilus, dan bagian horizontal yang berperan membatasi gerakan ke posterior dari kondilus dan discus
4.  ligamentum sphenomandibularis
Merupakan ligament tambahan pada TMJ. Memiliki peran penting dalam pergerakan mandibula
5. ligamentum stylomandibularis
Ligamentum ini berperan dalam membatasi pergerakan protrusi yang berlebihan dari mandibula


E. Otot-Otot Rahang

1. M. Pterigoideus Eksternus/Lateral
Origo : - Kepala Bawah utama : Permukaan lateral lamina lateralis proc.pterigoideus
- Kepala Atas Pembantu : Permukaan infratemporalis ala major ossis sphenoidalis
Insersio : Fovea pterygoidea proc.codylaris mandibulae; discus articularis articulation temporomandibularis.

2. M.Pterigoideus Internus/Medialis
Origo : Fossa pterygoidea; proc.pyramidalis ossis palatini; lamina lateralis proc.pterygoidei.
Insersio : Permukaan medial dan angulus mandibulae; berhadapan dengan m.masseter (pada tuberositas pterygoidea )

3. M.Masseter
Origo : Proc.zygomaticus maxilla; pinggir bawah arcus zygomatici
Insersio : Angulus dan ramus mandibula, dasar proc. Coronoideus

4. M. Temporalis
Origo : fossa temporalis dan fascia temporalis
Insersio : Pinggir anterior dan permukaan medial proc. Coronoideus mandibula


F. Reseptor Syaraf Pada TMJ

I. Reseptor Persendian
Terdiri dari mekanoreseptor (badan akhiran saraf) dan resptor nyeri/nosireseptor (ujung akhiran bebas). Berdasarkan penyebaran jenisnya, rseptor persendian terdiri dari :
1. Reseptor tipe I : merupakan mekanoreseptor yang terdapat pada lapisan luar kapsul sendi, berupa kapsul yang berbentuk bulat kecil. Berfungsi menerima tekanan terutama kearah posterior dan berperan dalam mempertahankan posisi mandibula.
2. Reseptor tipe II : merupakan mekanoreseptor yang terdapat didalam kapsul sendi berbentuk spindle tebal, berperan dalam menerima kesan getaran pada sendi.
3. Reseptor tipe III : merupakan mekanoreseptor yang terdapat pada ligamentum lateralis TMJ. Berperan dalam menerima kesan tekan/kearah lateral pada TMJ.
4. Reseptor tipe IV : merupakan reseptor nyeri berupa akhiran bebas ujung syaraf tanpa myelin yang terletak disekeliling kapsul sendi. Reseptor nyeri tidak didapati pada kartilago sendi, jaringan synovial dan diskus artikularis.

II. Reseptor Otot-otot Sendi
Reseptor otot-otot TMJ terdiri atas :
1. Kumparan otot (muscle spindle)
Terletak diantara serat-serat muscular, berbentuk seperti mata pintal yang panjang merupakan ressepto propriosef yaitu reseptor yang membantu menentukan posisi tubuh/anggota tubuh dalam ruang. Reseptor ini berperan dalam koordinasi gerakan otot-otot sehingga gerakan rahang bawah dapat dilakukan dengan cepat.
2. Organ Glgi Tendon
Merupakan kapsul yang mengandung serat jaringan penyambung yang terdapat pada perletkatan otot dengan tendonnya. Merupakan reseptor Proprioseptif yang peka terhadap perubahan pannjang otot dan berfungsi inhibitor terhadap kontraksi otot.


G.  Suplai pembuluh darah dan saraf
Suplai saraf sensoris ke sendi temporomandibula didapat dari nervus aurikulotemporalis dan nervus masseter cabang dari nervus mandibularis. Jaringan pembuluh darah untuk sendi berasal dari arteri temporalis superfisialis yang merupakan cabang dari arteri carotis eksterna.



Fungsi TMJ
Fungsi utama sendi temporomandibula adalah memungkinkan gerakan membuka dan menutup mulut, protrusi dan retrusi mandibula serta gerakan ke lateral yang berdasarkan gerakan rotasi dan translasi.
Otot- otot pengunyahan/ mastikasi
1. M. pterigoideus eksternus/ lateral
2. M.pterigoideus internus/ medial
3. M. masseter
4. M. temporalis

Kelainan TMJ / Temporomandibular disorders (TMD)

Apakah yang dimaksud dengan sendi Temporomandibular?
Sendi temporomandibular adalah sendi yang menghubungkan rahang bagian bawah (mandibula) ke tengkorak, dan terletak tepat di depan telinga di setiap sisi kepala. Sendi ini fleksibel, dapat bergerak ke atas dan ke bawah serta ke samping yang memungkinkan Anda untuk berbicara, mengunyah, dan menganga. Otot yang melekat dan di sekitar sendi rahang dan rahang bagian bawah mengatur posisi dan pergerakan dari rahang.


Apa yang menyebabkan TMD?
Temporomandibular disorders (TMD) terjadi sebagai akibat dari masalah yang berhubungan dengan sendi rahang dan otot-otot di sekitar wajah yang mengontrol proses pengunyahan dan gerakan rahang. Cedera pada rahang, sendi temporomandibular, atau otot kepala dan leher dapat menyebabkan TMD. Penyebab lainnya adalah:
  • Tindakan menggerus gigi secara tidak sadar
  • Dislokasi tulang
  • Osteoarthritis atau rheumatoid arthritis di TMJ
  • Stres, dapat menyebabkan otot-otot wajah dan rahang menjadi kencang


Apakah gejala TMD?
Orang-orang yang mengalami TMD dapat merasakan sakit yang sangat dan ketidaknyamanan yang dapat bersifat sementara maupun selama bertahun-tahun. Perempuan lebih sering mengalami TMD dibandingkan laki-laki dan TMD paling sering dialami oleh orang-orang di antara usia 20 dan 40.

Gejala umum TMD:
  • Rasa sakit di sekitar wajah, daerah persendian rahang, leher dan bahu, dan di dalam atau dekat telinga sewaktu Anda mengunyah, berbicara atau membuka mulut lebar-lebar.
  • Tidak dapat buka mulut besar
  • Rahang yang tidak dapat digerakkan lagi pada posisi mulut tertutup atau terbuka
  • Bunyi klik, terdengar suara pada saat membuka atau menutup mulut (yang mungkin atau tidak disertai oleh rasa sakit)
  • Wajah merasa lelah
  • Kesulitan mengunyah atau gigitan yang tidak nyaman yang terjadi secara tiba-tiba - seperti bila gigi atas dan bawah tidak dalam posisi yang tepat
  • Pembengkakan pada sisi wajah gejala umum yang lain termasuk sakit gigi, sakit kepala, sakit leher, pusing, sakit telinga dan masalah pendengaran,


Bagaimana cara mendiagnosa TMD?
Dengan memperhatikan riwayat penyakit pasien dan melakukan pemeriksaan klinis secara teliti dapat menegakkan diagnosis dengan benar.
Para ahli bedah akan memeriksa sendi temporomandibular Anda dan otot yang terkait apakah terdapat rasa sakit; terdengar bunyi klik, terdengar suara selama pergerakan sendi rahang; terdapat pergerakan yang terbatas atau penguncian gerakan rahang saat membuka atau menutup mulut, dan memeriksa gigitan dan fungsi otot wajah. Dalam beberapa kasus dapat juga dilakukan ronsen foto panoramik. Ronsen foto panoramik memudahkan ahli bedah untuk melihat keadaan seluruh rahang, TMJ, dan gigi geligi untuk memastikan simtom-simtom yang ada tidak berasal dari keadaan-keadaan lain. Kadang-kadang juga diperlukan tes yang lain, seperti magnetic resonance imaging (MRI) atau computer tomography (CT). Dengan melakukan tes MRI dapat dilihat jaringan lunak seperti diskus TMJ untuk melihat apakah diskus berada dalam posisi yang benar sewaktu rahang bergerak. CT scan dapat membantu melihat detail tulang persendian.


Perawatan apa yang tersedia untuk TMD?
Perawatan yang tersedia bermacam-macam, dimulai dari perawatan-perawatan sederhana dan konservatif yang dapat dilakukan sendiri sampai dengan suntikan dan tindakan bedah. Perawatan harus dimulai dengan perawatan konservatif, tanpa pembedahan, dengan pembedahan sebagai pilihan terakhir.


Perawatan Dasar
  • Aplikasikan bungkusan yang panas atau dingin untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit
  • Konsumsi makanan yang lunak
  • Konsumsi obat
  • Gunakan splint atau night guard


Perawatan lainnya
Dokter akan menyarankan satu atau lebih perawatan dibawah ini apabila perawatan dasar yang tercantum di atas gagal:

Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
Terapi ini menggunakan arus listrik tingkat rendah untuk menghilangkan rasa sakit yang timbul dengan cara melemaskan rahang dan otot wajah. Perawatan ini dapat dilakukan oleh dokter gigi di tempat praktek maupun di rumah.

Ultrasound
Pengobatan Ultrasound dilakukan dengan menggunakan panas yang diaplikasikan pada TMJ untuk meringankan rasa sakit atau meningkatkan pergerakan.

Injeksi pada trigger-point
Obat penghilang sakit atau bahan anestesi diinjeksikan pada otot wajah yang disebut trigger-point untuk menghilangkan rasa sakit.

Radio Wave Therpy
Gelombang radio menciptakan stimulasi listrik tingkat rendah pada persendian yang dapat meningkatkan aliran darah. Rasa sakit yang dirasakan pasien pada persendian berkurang.

Pembedahan
Pembedahan hanya boleh dilakukan apabila semua perawatan telah mencoba dan pasien masih merasakan sakit.

Arthrocentesis
Pasien yang akan menjalani bedah arthroscopic pertama-tama diberikan anestesi umum. Para ahli bedah kemudian membuat torehan kecil di depan telinga dan memasukkan alat kecil dan tipis yang berisi lensa dan cahaya. Alat ini dihubungkan ke layar video, memungkinkan ahli bedah memeriksa TMJ dan daerah sekitarnya. Kemudian ahli bedah membuang jaringan yang mengalami peradangan atau memperbaiki letak disk atau kondil, tergantung dari penyebab TMD.

Open-Joint Surgery
Pasien yang menjalani bedah ini pertama-tama juga diberikan anestesi umum. Tidak seperti arthroscopy, seluruh daerah sekitar TMJ dibuka sehingga ahli bedah dapat melihat secara lengkap dan akses lebih baik. Ada banyak jenis open-joint surgeries.
Perawatan ini mungkin diperlukan jika:

  • Struktur tulang yang meliputi rahang mengalami kemunduran fungsi
  • Ada tumor di atau sekitar TMJ
  • Ada kerusakan parah di sekitar persendian


Dibandingkan dengan arthroscopy, waktu penyembuhan open-joint surgery lebih panjang dan terdapat kemungkinan kerusakan dan cedera syaraf yang lebih besar.

Fungsi Mouthguards / Pelindung Gigi

Atlet olahraga yang banyak melibatkan kontak fisik rentan untuk mengalami trauma pada gigi. Sebut saja olahraga tinju, rugby, football, dan olahraga lainnya yang beresiko tinggi untuk terjadi kecelakaan pada wajah, mulut dan sekitarnya. Untuk melindungi gigi dan jaringan lunak jika kecelakaan tak terhindarkan, dibuatlah alat yang disebut mouth guard. Umumnya atlet di cabang olahraga tertentu diharuskan untuk memakai alat ini, dan ada juga sekolah-sekolah yang mewajibkan murid-murid menggunakan mouth guard pada saat pelajaran olahraga tertentu.

Selain penggunaan di bidang olahraga, mouth guard juga memiliki kegunaan di bidang medis. Alat ini dapat digunakan sebagai splint pada penderita kelainan sendi rahang (temporomandibular/TMJ disorder) dan bruxism. Bruxism adalah kebiasaan buruk mengerat tidur tanpa sadar terutama saat tidur malam, dan dapat menyebabkan permukaan gigi menjadi aus. Oleh karena itu mouth guard digunakan untuk melindungi gigi. Alat ini umumnya terbuat dari material plastik.


Ada beberapa jenis mouth guard yang dapat digunakan:

Stock / Ready made mouth guard. Jenis ini sudah dibuat di pabrik dengan berbagai ukuran tapi tidak dapat disesuaikan dengan ukuran dan bentuk si pemakai. Jenis ini banyak tersedia di toko atau toko olahraga namun kurang disarankan karena ukurannya yang tidak pas sehingga seringkali mengganggu saat bicara atau bernapas. Fungsi perlindungannya juga kurang optimal.

Mouth adapted (boil and bite). Jenis ini terbuat dari material thermoplastic (plastik yang dapat melunak saat dipanaskan dan mengeras saat mendingin). Cara penggunaannya diletakkan dalam air panas hingga lunak lalu dimasukkan ke dalam mulut dan dibentuk dengan jari dibantu lidah agar sesuai dengan bentuk gigi dan rahang pemakai. merk seperti tapout, shockdoctor merupakan produsen mouthguard dengan kualitas tinggi.

Custom –fitted mouth protector. Dari ketiga jenis mouth guard dapat dikatakan jenis ini yang terbaik, karena dibuat secara individual untuk masing-masing pasien sehingga dapat pas dengan ukuran gigi dan rahangnya. Umumnya jenis ini dibuat oleh dokter gigi yang mencetak rahang pasien lalu dikirim untuk dikerjakan di laboratorium dental. Karena proses pembuatannya yang spesifik, umumnya harganya pun lebih mahal dibandingkan kedua jenis diatas, namun memberikan kenyamanan dan perlindungan yang maksimal.


Mencegah lebih baik mengobati. Sederhana mungkin kata-kata tersbut anda dengarkan. Tapi jika telah masuk dalam tahap pengobatan trauma atau luka maka harga yang akan dikeluarkan bukanlah harga yang murah apalagi jika menyangkut wajah, gigi dan mulut, bagian pertama yang terlihat, bagian terindah dan menyangkut nilai estetika yang tinggi. Menggunakan mouth guard saat berolahraga mungkin pilihan yang bijak bagi anda.

Setelah tahu mengenai “mouth guard” dan pentingnya penggunaan alat pelindung ini, maka sebaiknya anda tahu jenis olahraga yang direkomendasikan untuk penggunaaan alat ini, siapa tahu olahraga favorit anda ada dalam daftar dibawah ini. Berikut adalah daftar olahraga yang disarankan untuk menggunakan pelindung mulut atau “mouth guard” oleh Asosiasi Kedokteran Gigi Amerika


  • Akrobat
  • Bola basket
  • Tinju
  • Lempar Cakram
  • Hokey Lapangan
  • Sepakbola
  • Senam
  • Bola Tangan
  • Hokey Es
  • Lacrosse (Mirip Hokey)
  • Tinju Bebas
  • Racquetball (Mirip Squash)
  • Rugby
  • Tolak Peluru
  • Skateboarding
  • Ski
  • Ski Udara
  • Soccer
  • Squash
  • Selancar
  • Bola Volli
  • Polo Air
  • Angkat Besi
  • Gulat